L o a d i n g
Diawali dengan rasa sedih yang mendalam di dalam hati saya terhadap sesuatu yang saya sendiri tidak mengetahui apa penyebab pastinya, saya ingin sekali menangis. Namun, keinginan saya untuk menangis itu tidak bisa jika saya lakukan di tempat yang saya tidak inginkan untuk menangis.

Memang bangsat sekali stereotipe menangis itu adalah lemah. Siapa yang pertama membuat anggapan itu? Kamu sudah membuat saya susah payah untuk jauh jauh ke Rinjani hanya untuk menangis di puncaknya dan pulang digendong warga.

Saya bukanlah pendaki, tapi saya kadang suka dengan suasana hening alam, suara alam, atau bau alam dan bukan berarti fisik saya kuat seperti porter badak. Berangkat dari Yogyakarta-Banyuwangi naik kereta 13 jam kurang lebih, naik kapal laut dari Ketapang-Lombok 12 jam kurang lebih. Mendaki pagi jam 8 lewat jalur Sembalun yang di mana rencananya mendaki lewat jalur Sembalun dan turun lewat jalur Torean.

Sampai di camp palawangan 2 sekitar jam 9 malam, kita mendirikan tenda dengan cepat karena angin sangat kencang dan jaket saya dipinjam oleh seorang wanita dan saya seperti pahlawan kesiangan yang kedinginan. Lalu kita semua langsung beristirahat.

Jam 3 pagi kita semua bangun dan makan nasi + Indomie yang disiapkan oleh chef logistik yang bukan standar SNI untuk siap siap summit. Waktu itu ada ibu-ibu yang ikut rombongan saya dkk, jumlah kami 6 orang termaksud ibu ibu tersebut. Begini cara saya merapatkan barisan dan berdoa sebelum memulai summit,

“Teman-teman semuanya, sebelum kita memulai summit ini ada baiknya kita berdoa untuk keselamatan diri kita masing-masing. Puncak bukanlah segalanya, puncak yang sebenarnya itu adalah kasur yang empuk saat kita bisa selamat pulang sampai kerumah. Berdoa di mulai”

Begitu…

Saat kita berjalan dan mulai meninggalkan tenda dan melewati bukit di mana di sebelah kanan terlihat danau Anak Segara yang dihujani cahaya bulan. Namun, keindahannya dikalahkan oleh yang namanya tanjakan penyesalan. Ini bukan soal jati diri atau sebarapa kuat fisik melainkan mampukah diri menjadi manusia yang mengontrol ego.

Saya dikalahkan oleh ego saya begitu juga semua teman yang ada di kelompok kita. Sebab, kita di jalur dan jalan bersama seorang ibu-ibu. Ego mulai menggerogoti jiwa saya. Pikiran pikiran jahat negatif saya mulai berteriak di kepala untuk urus saja diri saya sendiri dan meninggalkan ibu-ibu tersebut di jalur karena memang fisik berbeda kecepatan jalan juga berbeda.

Saya perlahan meninggalkan ibu itu dan juga teman teman saya, saya berada di paling depan bersama 1 teman saya. Ego saya telah berkata dan membulatkan hati saya untuk meninggalkan ibu tersebut di jalur. Sungguh memang cerita ini begitu menyakitkan bagi saya.

Waktu itu trek pasir bebatuan tanjakan penyesalan memang hampir menggoyahkan niat untuk menyudahi sajalah pendakian ini, tidak masalah jika tak sampai puncak. Hal itu ditambah dengan badai awan yang hanya ada disekitar puncak Rinjani. Bekal saya seperti air tinggal 1 tegukan lagi dengan sisanya rempeyek tempe yang hancur. Saya duduk di balik batu sebentar melihat kearah bawah yang ternyata saya sudah sangat jauh berjalan.

Kemudian banyak pendaki yang turun padahal tinggal 30 menit lagi katanya sampai puncak, mereka berkata, “Di atas badai mas, angin nya kecang sekali saya saja tinggal 20 menit lagi memilih turun”. Mendengar hal itu saya tidak goyah, karena niat awal mendaki ke gunung Rinjani hanya ingin bisa menangis maka badai ini akan saya tabrak saja. Tidak takut.

Teman saya yang 1 sudah goyah, dia memutuskan berhenti beberapa menit dahulu demi memastikan kondisi sementara saya lanjut. Saya berjalan, perlahan 2 langkah jalan 1 langkah turun sebab trek pasir dan batu yang menyiksa. Saya bertemu dengan 3 orang yang saya temui di pos 1. Mereka orang Jakarta dan orang Medan dan 1 porter pribadi nya.

Kebetulan si mas-mas yang dari Medan itu fisiknya tidak kuat namun bertekad berdiri di puncak sudah begitu memakai calan jeans lagi. Namun itu bukanlah halangan. Sementara porter pribadi nya santai saja karena sudah biasa.

Saya melewati mereka, kemudian saya masuk ke area badai yang benar-benar menabrak saya. Anginnya terasa seperti anda bawa motor dan terdorong oleh angin. Lumayan deg-degan juga karena orang orang yang di bawah sudah jauh tertinggal semenatara yang di atas ada beberapa orang dan rombongan ibu ibu pendaki.

Saya berjalan sampul melihat tanah, karena saya tahu ketika saya melihat kedepan itu masih sangat jauh dan itu bisa memancing saya untuk menyerah karena memang di jalur pasir dan batu inilah semuanya diuji.

Perlahan saya melewati badai dengan selamat, perlahan saya melewati 8/9 rombongan ibu ibu bersama 2 porter pribadinya. Dan perlahan tingaal ada beberapa orang saja yang terlihat berjalan ke puncak. Saat saya melihat kebawah beberapa saat, saya tidak melihat sama sekali temen teman saya apalagi ibu-ibu yang ikut summit dengan kelompok kami.

Saya berjalan perlahan-lahan dan sebelum sampai di puncak itu, saya mengeluarkan handphone saya dan berniat mendokumentasikan momen saya berhasil berdiri di puncak Rinjani. Ini video nya.

Akhirnya setelah video saya matikan, saya duduk di plat / plang Rinjani 3726 mdpl. Lalu kemudian saya menangis semenangis nya. Yah air mata bertahun-tahun yang tak pernah bisa keluar akhirnya keluar juga, waktu itu lumayan lama nangisnya 5 menit. Bangsat kalian yang ngomong pria kok menangis. Lemah.

Saya langsung kepikiran kedua orang tua saya, saya rindu mereka, rindu dengan kakak dan adik saya. Itu trigger saya ternyata mengapa saya ingin menangis di Rinjani.

Waktu itu di puncak hanya ada 4 orang penabrak badai yang tidak saling mengenal sekitar jam setengah sembilan. Ada orang Bandung, Jambi, Surabaya dan saya. Kita saling berpelukan. Saya tiduran lama sekali menikmati pemandangan dengan puncak seolah milik kami saja. Beberapa saat rombongan ibu-ibu beserta porternya yang kuat sampai juga di puncak.

Mereka langsung sujud dan menangis semua saling berpelukan satu sama lain. Saya agak terpancing juga ingin menangis lagi tapi saya sudah lega. Hehee

Di sini saya belajar satu hal, bahwa yang namanya tertawa / tersenyum belum tentu terlihat bahagia begitu juga dengan menangis. Tangisan-tangisan orang orang yang tumpah di puncak Rinjani itu saya yakin adalah sebuah kebanggaan atau pencapain yang sulit untuk dimiliki. Wajar jugalah namanya juga ibu ibu, mereka gampang terharu.

Dan setelah itu kita berfoto lagi pastinya..

Saya sangat berharap bahwa ibu ibu ini selain punya hobi yang keren bersama sahabat sahabat nya juga sangat pintar jika dimintai untuk memasak rendang. Langsung kepala saya berkhayal ingin memiliki kekasih / istri kelak yang hobi nya seperti ibu ibu ini.

Saya sangat lama menunggu teman teman saya yang ternyata sudah terlihat melanjutkan summitnya. Dan akhirnya mereka pun sampai di puncak 1 jam setelah saya sampai. Berfoto ria lalu kita turun lagi bersama.

Saat turun saya bertemu dengan ibu ibu yang ikut kelompok kami di setengah perjalanan lagi untuk menuju ke puncak. Itu masih sangat jauh, dia berkata,

“Kok aku ditinggal mas” dengan ekspresi wajah yang kecewa.

Saya diam seribu bahasa. Tapi ibu ibu itu tidak marah, dia hanya merasa bahwa anak anak muda seperti saya dan teman-teman saya hanyalah sekumpulan anak muda yang menyepelekan dia. Dia baru mengungkapkan hal ini sewaktu kita bertemu lagi di basecamp. Setelah itu saya lanjut turun dengan sisa air 2 teguk dan rempeyek, berjalan sendirian tanpa teman karena sudah jalan masing-masing.

Pukul setengah duabelas, saya sampai di tenda dan langsung istirahat tidur sampai jam 2 siang. Selanjutnya jam 3, kami bersiap siap untuk turun ke danau anak Segara. Estimasi waktu dari palawangan 2 ke danau sekitar 3 jam kurang lebih dengan trek tebing bebatuan Savana.

Saya adalah orang terakhir yang sampai di danau Sagara anak sebab dengkul saya tidak kuat dengan tipe jalan turunan. Saat sampai saya langsung diajak oleh pemuda dari warga setempat untuk mandi air panas. Dan itu sangat nikmat sekali. Setelah itu makan kemudian beristirahat. Seperti ini pemandangan danaunya kalau sudah pagi. Tentunya itu hanya editan sednagkan aslinya lebih bagus dari ini.

Ikannya boleh untuk dipancing dan besar besar. Pagi itu, kita sarapan dengan ikan bakar, sambel kecap, dan nasi yang agak keras. Hehe Selanjutnya kami berencana turun lewat jalur Torean pukul 9 pagi karena katanya estimasi waktu untuk sampai ke basecamp itu sekitar 12 jam.

Waktu itu cuaca sangat bagus saya dan teman-teman berjalan beriringan melewati lembah-lembah yang indah, sungai-sungai, dan bukit hijau yang jarang sekali saya lihat dan itu begitu indah.

Nah, pada saat itu saya belum BAB selama 3 hari dan perut saya pas kebetulan sangat sakit ingin boker. Kebetulan di jalur torean ada sungai dan saya langsung saya membuka celana saya dan ngemper di pasir sungai mengeluarkan limbah padat yang harusnya sudah keluar dari 2 hari yang lalu. Mau fotonya? Oh jangan.

Perjalanan masih sangat jauh saya mulai terpisah dengan rombongan dan mulai berjalan sendirian karena dengkul dan pinggang saya tidak terlalu kuat berjalan lama di jalur turunan oleh sebab itu saya banyak berhenti. Dan itu membuat saya tertinggal dan di lewati.

Ada satu namanya mata air kehidupan, kebetulan di situ ada 2 orang beragama Hindu sendang sembahyang atau mungkin melakukan ritual khusus, mengatakan kepada saya untuk mengisi botol yang kosong itu dengan air kehidupan itu, lalu saya melakukannya.

Konon katanya itu mata air terakhir di jalur torean dan sangat sakral.

Saya terus berjalan naik turun bukit. Hati saya sudah misuh misuh tidak jelas begitu, sebab jalur nya itu naik turun bukit. Harusnya kalau turun ya turun saja gitu. Itu hanya ada di dalam hati saja. Saya melewati banyak sekali bukit di jalur torean, dan berhenti agak lama saat saya bertemu dengan pemandangan air terjun yang indah di torean.

Setelah itu kaki saya mulai terasa tidak bersahabat, perut lapar sudah jam 2, sementara saya hanya sendirian di jalur dan hanya punya 1 bungkus Indomie dan 2 botol air yang masih penuh sementara cemilan saya ada di keril teman saya (momen bangsat). Ada 5 orang sweper di belakang yang belum muncul.

Setelah saya sudah hampir memasuki area hutan, saya duduk di pinggir jalur. Waktu itu jam 3 atau setengah empat begitu. Saya ketiduran lumayan lama di jalur lalu kemudian terbangun karena mimpi. Saya bermimpi seperti ada yang melewati saya dan orang nya itu itu saja. Karena saya tahu ini mimpi saya berpikir saya harus bangun. Tak terasa saya terlelap selama setengah jam.

Saya waktu itu tidak takut dengan yang namanya setan, saya di dalam hati hanya berkata. Urus saja urusanmu jangan ganggu aku, aku lelah. Seperti gaya orang marah yang tidak ingin diganggu lah sugesti yang saya berikan kepada diri saya sendiri supaya saya tidak halu terhadap hal mistis.

Beberapa saat para sweper datang dan saya meminta supaya mengurangi sedikit beban di keril saya. Waktu itu sudah hampir gelap, dengkul saya sudah seperti kopong, tenaga saya benar-benar habis dan saya merasa bahwa saya ini beban. Saya mengatakan kepada para sweper,

“Mas aku tidak masalah ditinggalkan di sini saja, tapi nanti kalau sudah sampai di bawah tolong hubungi warga saya minta gendong saja dan saya akan bayar”

Namun, 5 orang sweper memang sangat baik kepada saya. Mereka berkata,

“Jangan ded, kita tungguin kamu sampai kamu kuat kok. Kamu tidak perlu khawatir. Kalau kamu capek kita istirahat kok”, mereka sambil menyemangati saya dengan sumpah serapah yang membuat mood saya juga bagus.

Namun ada satu hal yang saya tidak sukai dari salah satu sweeper ini. Waktu itu saya berhenti di sebuah Goa di jalur torean dan itu saat waktu magrib.

Di dalam Goa ada sesajen sesajen banyak sekali seperti bekas ritual keagamaan. Dan salah satu dari sweeper itu membongkar dengan kaki nya mencari apakah ada kopi atau rokok atau apapun yang bisa dikonsumsi seperti ayam misalnya.

Saya sebenarnya paham atas ketidakpercayaan dia terhadap sesuatu yang dipercayai oleh orang lain, namun harusnya tidak seperti itu. Seperti tidak memiliki etika di daerah yang bukan dikuasai oleh dirinya.

Hari sudah semakin gelap. Suara-suara hewan malam sudah mulai terdengar. Karena memang saya tidak takut jikalau pun saya ditinggal di hutan ini karena memang tenaga saya sudah benar-benar habis. Saya tak sanggup lagi untuk berjalan. Saya mengatakan hal yang sama kepada para sweeper untuk tidak apa-apa meninggalkan saya sendiri disini. Namun mereka masih tetap setia.

Malah akhirnya, keril saya dibawa oleh salah satu sweeper dan saya dirangkul oleh salah satu sweeper yang menurut saya sangat baik. Bang novan namanya orang Tasikmalaya, saya punya hutang Budi sama dia 1 jam perjalanan dirangkul dengan bobot saya 69 kg.

Akhirnya saya sampai dititip walaupun sudah dirangkul, saya tidak sanggup lagi untuk melanjutkan perjalanan. Saya berkata “sorry” kepada bang novan, saya menyerah. Saya sudah tidak sanggup lagi berjalan.

Waktu itu target kami ada banner di jalur torean, para sweeper bilang hanya tinggal 30 menit lagi dan setelah banner nanti ada ojek. Namun saya sudah low. Baru kali ini saya merasakan bagaimana rasanya kehabisan tenaga di tengah hutan. Itu sudah jam 7 malam.

Kebetulan waktu itu ada sinyal, dan teman-teman saya sudah sampai di basecamp sebelum magrib.

Lanjut….

Akhirnya 2 orang sweeper jalan duluan untuk menemui warga dan mungkin ada pertolongan. Sementara saya dan 3 orang sweeper duduk saja di hutan itu sambil mendengar suara burung hantu. Mereka bertiga berusaha membuat saya tidak tidur dengan cara bercanda.

Saya masih bisa tertawa namun tubuh saya sudah tidak ada tenaga. Saya berusaha bangun lagi dan mengajak untuk lanjut jalan lagi sampai akhirnya saya melihat ada lampu senter yang mengarah ke langit.

Para sweeper berteriak wooy sangat keras dan meniup peluit nya berharap mereka mendengar karena mungkin sudah dekat dengan kami. Saya waktu itu hanya diam tak bisa bergerak, betis saya sakit, pinggang saya sakit, jempol kaki saya rasanya seperti ingin copot.

Di dalam hati saya sudah berkata berjuta kata kebun binatang sumpah serapah kata kata kotor terhadap jalur ini namun saya tidak berani mengeluarkan nya.

Dan akhirnya, 2 orang warga datang dengan stamina seperti prajurit sparta, menggendong saya bergantian melewati tanjakan dan turunan. Mereka sangat kuat. Saya langsung menangis dan berkata terima kasih kepada mereka berdua.

Saya digendong sampai ke pos ojek, dan saya langsung terkapar lalu diangkat lagi ke motor dan diantar ke basecamp.Itu kalau tidak salah seandainya saya memilih untuk tidak digendong dan tidak naik ojek. Estimasi sampai ke basecamp sekitar pukul 12 malam. Saya yakin, sebab saya merasa diri beban.

Sebelum digendong, teman saya yang sudah sampai di basecamp malah menjemput saya dengan berjalan naik lagi menemui saya di pos ojek.

Namanya Kiki (Jakarta) dan bang Ari (orang asli daerah Rinjani itu). Mereka menyusul saya sebab bang Novan menelpon Kiki untuk mengabarkan bahwa saya sudah menjadi door prize nya bang Novan di jalur torean. Saya terharu dengan hal kecil semacam ini.

Pukul 9 malam saya sampai di basecamp dengan manaiki ojek dan dibelakang saya ada Kiki. Saya turun langsung terbaring di rumah warga tempat kami menginap. Saya membuka sepatu dan langsung tidur tanpa makan dan minum dan terbangun jam 7 pagi esoknya harinya.

Ketika bangun badan saya seperti retak semua, saya tidak bisa jalan harus pelan. Saya berjalan ke warung, duduk dan memesan teh anget nasi putih telur dadar dan plecing kangkung khas Lombok. Serta mentraktir bang Novan dan 4 teman sweeper nya maka plecing kangkung sebagai tanda terimakasih saya sudah mau menerima door prize dari saya di jalur torean.

Penulis: Deddy

"Ada pepatah yang mengatakan, ketidaktahuan adalah anugerah dari Tuhan", namun bagiku pengetahuan adalah miracle..

Prev Post
Catatan The Selfish Gen (Gen Egois)— Richad Dawkins
Baca See

Comments

No comments available.

Leave a comment